Kamis, 04 Februari 2010

Tentang Pria dan Wanita Lagi

Tatkala Anda telah menikah, maka saatnya Anda menikmati hidup ini dengan penuh syukur. Dan dikarenakan syukur dan sabar itu tak mungkin dipisahkan, maka pastinya Anda pun harus banyak bersabar menerima berbagai keanehan yang dilakukan oleh pasangan hidup Anda. Tenang saja, aneh itu baru permulaan, insya Allah setelah Anda paham, justru aneh itu yang membuat pendewasaan sejati dalam diri Anda.
Ya, seringkali hubungan antara suami dan istri berantakan hanya gara-gara suami tidak memahami kondisi fitrah istrinya begitu pun sebaliknya. Ketahuilah bahwa pria dan wanita memang begitu berbeda. Konsep apa pun yang mengatakan bahwa pria dan wanita itu sama, sehingga harus diberikan hak dan kewajiban yang sama, maka itu adalah konsep yang sangat menyesatkan, jauh dari kefitrahan kodratnya masing-masing. Itu sebabnya Anda perlu tahu beberapa perbedaan antara pria dan wanita, simaklah:

1) Pria berburu dan melindungi, wanita mengasuh dan menyatukan. Sehingga wanita yang mengasuh dan menyusui anaknya tentunya lebih utama dari pada wanita yang meninggalkan anaknya kepada pembantunya yang belum tentu mengerti akhlak mulia. Kecuali ia adalah wanita karir, terlebih lagi suaminya hanya memiliki penghasilan pas-pasan, semoga Allah memaafkannya.
2) Pria obyektif, wanita intuitif (menganalisa lewat nada suara dan tatapan mata). Sehingga wajar saja jika pria merasa kesulitan jika berdusta di hadapan wanita ketika berhadapan langsung, sebab wanita seperti memiliki mesin pendeteksi kebohongan, biasanya pria menggunakan SMS ketika sedang membohongi istrinya. Tapi tidak selalu


3) Sudut pandang mata pria sempit, kerucut di retina mata pria kurang lebar, tidak seperti wanita, sehingga wajar jika pria lebih fokus tapi kurang kreatif melihat wacana lain di sekitarnya. Sehingga pula sering gagal jika diminta menemukan sesuatu, seperti menemukan gula yang terletak dengan sangat jelas di antara bumbu-bumbu dapur. Selain itu, karena sudut pandang mata pria sempit, maka tatkala melihat wanita lain yang menggoda, maka kepala pria turut berputar mengikuti arah wanita tersebut. Tapi bukan berarti pria tersebut jatuh cinta, naluriah saja, tidak berbahaya selama pria tersebut memiliki iman yang kuat. Namun, menundukkan pandangan mata jauh lebih utama.
Namun demikian bukannya berarti wanita tidak pernah melihat pria yang tampan, tetapi karena sudut pandang wanita luas melebar, relatif hampir 180 derajat, maka wanita jarang kepergok basah ketika sedang memandangi seorang pria yang tampan. Dan tentunya, karena sudut pandang yang melebar ini pulalah, yang bisa menyebabkan para wanita ketika berniat belanja mentega di supermarket, maka seringkali yang terbeli bukan hanya mentega, melainkan hal-hal menarik lainnya. Itulah konsekuensi logis dari sudut pandang mata yang luas. Wallahu a’lam.

4) Otak wanita memiliki koneksi antara otak kiri dan kanan sekitar 30% lebih aktif dari pria, tak heran jika wanita bisa berjalan, bicara, dan pakai lipstik sekaligus. Itu sebabnya ibu rumah tangga cocoknya bagi wanita, bukan pria. Lihatlah sang ibu, mampu melakukan beberapa hal sekaligus : masak, sambul ngasuh, sambil nyuci, bahkan sambil nyapu, sambil ngemil, bahkan sambil ngomel. Sedangkan pria biasanya hanya bisa berkonsentrasi pada satu pekerjaan di satu waktu. Maaf, maka tak heran jika pria jarang berbicara ketika sedang bercinta dengan istrinya. mungkin karena terlalu Fokus.

5) Wanita suka bicara, pria seperlunya. Maka tak heran jika 2 orang wanita bisa saling menelpon selama 1 jam, padahal mereka berdua baru pulang berlibur bersama selama satu minggu. Dan tentunya wajar saja, jika kata “gosip” lebih melekat pada diri wanita dibandingkan pria.

6) Wanita bicara, relatif dengan perasaan – baik positif maupun negatif, sehingga kadang terkesan hiperbolik bagi pria. Jadi kalau ada wanita yang berkata, “Kau tidak pernah benar-benar mencintaiku, kau hanya mencintaiku ketika engkau menginginkan seks saja!” Jika Anda pria, dan mendengarkan hal itu, maka : tenang saja, tak perlu dibantah, sabarlah, tidak hanya Anda yang mengalaminya.

7) Wanita pun mendengar dengan perasaan. Sehingga jika istri Anda mengajukan pertanyaan pilihan semisal, ”Suamiku, hari ini mau dimasakin sayur asem atau sayur bening?” Maka jika perasaan istri Anda sedang labil jangan sampai asal menjawab seperti, “Terserah kamu saja, deh!” Hati-hati, istri Anda bisa kecewa dengan jawaban “terserah” Anda, karena bagi istri Anda tidak ada “Sayur Terserah.” Namun demikian jika Anda menjawab, “Sayur asem saja!” maka istri Anda bisa saja ngedumel ga karuan, “Memang sayur bening bikinan saya tidak enak ya… kok milihnya sayur asem melulu!” Padahal dari sekitar 10 kali ’transaksi,’ Anda baru 5 kali memilih sayur asem.
Itu sebabnya ketika terjadi penawaran yang mengharuskan si suami memilih, maka ada baiknya si suami mengatakan, “O begitu ya, ada sayur asem dan sayur bening… memangnya kamu sudah nyiapain untuk masak sayur apa?” Jika ia menjawab, “Sayur Bening…!” Maka segeralah Anda memujinya, “Kebetulan saya juga sedang pengen makan sayur bening nih, apalagi sayur bening buatan kamu sangat unik sebab banyak kelebihannya dibandingkan sayur bening yang biasa!” (kalau bukan kelebihan garam, biasanya kelebihan air-pen)

8. Biasanya wanita memiliki ambang stres kecil, sedangkan pria cukup banyak bisa menampung masalah dalam hati dan pikirannya. Sehingga tak heran jika wanita setelah melewati harinya ia suka curhat pada suaminya di kala malam tiba. Yang berbahaya adalah jika suaminya dalam kondisi stres juga, maka suaminya kadang enggan mendengarkan. Istri kalau stres cenderung berbicara dan mencari teman bicara, sedangkan suami kalau stres cenderung diam dan mencari ketenangan.

9) Bagi pria, keahlian itu yang utama, sedangkan bagi wanita kebersamaan lebih utama. Itu sebabnya jika secara obyektif istrinya bersalah, seorang suami yang mengerti tidak langsung menghakimi istrinya. Suami yang baik akan menunjukkan keberpihakannya kepada istrinya. Ia bisa mengatakan, “Mari kita hadapi bersama…”

10) Suami suka dipercaya, sedangkan istri suka diperhatikan. Berikanlah kepercayaan penuh kepada suami Anda, katakanlah, “Saya yakin Kakanda bisa menyelesaikan masalah-masalah ini..!” Dan berikanlah perhatian pada istri Anda. Katakanlah, “Kanda tuh cintaaa banget sama Dinda…” kalau bisa ucapkanlah minimal seminggu dua kali. Tapi jangan ucapkan terlalu sering, misal setiap jam, sebab dikhawatirkan maknanya jadi kurang mendalam lagi, dan juga jangan ucapkan hanya kalau Anda sedang ada maunya.

11) Secara umum, Pria menyukai SEKS (wanita adalah perhiasan terindah bagi pria-pen), sedangkan kebetulan wanita suka diperhatikan (begitulah karakter perhiasan-pen). Wanita berpikir SEKS adalah konsekuensi dari menikah, sedangkan tidak sedikit pria yang berpikir MENIKAH adalah konsekuensi dari menginginkan seks. Jika ada wanita lajang menyatakan “Aku mencintaimu!” kepada seorang pria, artinya bisa jadi banyak seperti, “Aku bersedia menikah denganmu,” atau “Aku ingin mengobrol lebih banyak denganmu,” atau “Aku ingin mendapatkan perhatianmu lebih banyak,” atau “Aku ingin dibelikan ini dan itu…” Tetapi jika seorang pria lajang menyatakan “Saya mencintaimu!” kepada seorang wanita yang belum menikah, maka artinya relatif sederhana yaitu “Aku ingin segera berhubungan seks denganmu…!”

12) Pria yang humoris adalah yang pandai melontarkan humor, sedangkan wanita humoris adalah yang tertawa ketika pria melontarkan humor. Itu sebabnya, jika suami Anda melontarkan humor tolonglah untuk tertawa seikhlas mungkin, dan jangan pernah katakan “garing amat sih”. Sebab sejujurnya, seorang istri akan terlihat tambah menarik plus menggoda bagi suami jika istri itu menghargai humor2 suaminya…
Kesimpulan, intinya pria menginginkan kekuasaan, prestasi, dan seks, dan wanita menginginkan hubungan, stabilitas, dan cinta.
Wallahu alam

Mengatasi Perbedaan Dalam Keluarga

Memasuki kehidupan berkeluarga, seorang pria dan wanita pastilah memerlukan penyesuaian satu sama lain. Dalam masa penyesuaian ini mereka barulah melihat adanya kekurangan dalam diri pasangannya yang mungkin pada saat pacaran belum terlihat. Sebelum berkeluarga mereka memiliki kebiasaan dalam keluarganya misalnya makan malam bersama dimana pada saat tersebut mereka dapat saling menceritakan kejadian yang dialami hari itu. Mungkin kebiasaan tersebut tidak ada
dalam keluarga pasangannya, sehingga di saat mereka telah menikah pasangannya agak susah untuk mengikuti kebiasaan tersebut.
 Pada dasarnya pria dan wanita berbeda dalam hal berkomunikasi.
Seorang wanita sebelum menikah memiliki teman bercerita antara lain ibunya ataupun teman dekat yang setia mendengarkan ia berkeluh kesah mengenai aktivitasnya hari itu. Tetapi setelah menikah ia kehilangan orang yang bersedia mendengarkan tanpa memberikan komentar. Suaminya di saat pulang sudah lelah dengan beban kerjaan di kantor sehingga setiap perkataan istrinya dianggap sebagai omelan dan dia tidak membutuhkan itu.
Seorang wanita memiliki kebutuhan untuk didengarkan di saat ia berbicara tanpa adanya komentar dari pasangannya. Tetapi hal tersebut tidak diperolehnya dari suaminya. Suaminya lebih senang bila pulang kerja duduk membaca koran atau menonton TV.
Sebenarnya dengan membaca koran atau menonton TV merupakan cara pria untuk melupakan masalah di kantor dan dia ingin rileks. Tetapi hal tersebut tidak ditemuinya di rumah. Begitu dia pulang, istri telah menyambutnya dengan menanyakan “Bagaimana Pa, pekerjaan di kantor?” atau “Apakah masalah A itu telah selesai?” Istri menanyakan hal tersebut karena begitulah ia ingin diperlakukan. Ia ingin menceritakan kejadian di kantor pada orang yang disayanginya dan ingin menawarkan penyelesaian. Tetapi jawaban suami “Oh, baik, Ma” Jawabannya hanya singkat karena dia perlu waktu menyendiri sebelum dia dapat mendengarkan istrinya bercerita. Tetapi ungkapan singkat tersebut bagi istri “Wah, dia sudah tidak sayang lagi denganku.” Mulailah timbul perselisihan di antara mereka.
Suami yang mendapat perlakuan tersebut terus menerus menjadikannya enggan untuk pulang ke rumah bila ia tidak siap dengan pertanyaan istrinya. Istri yang tidak mendapat tanggapan dari suami akan marah karena menganggap suaminya sudah tidak sayang lagi dengannya.
 Sebenarnya masalah tersebut dapat diselesaikan dengan mudah bila masing-masing pihak menyadari adanya perbedaan kebutuhan antara pria dan wanita.  Dalam masalah di atas dapat diselesaikan dengan si suami berterus terang pada istrinya bahwa ia perlu waktu menyendiri beberapa saat dan minta pengertian istrinya, dia bisa saja berkata “Oh, baik, Ma tapi saya perlu waktu istirahat sebentar, Papa sayang sama Mama“. Istripun harus dapat menerima keinginan pria untuk menyendiri dan dia melakukan aktivitasnya yang lain.
Bila istri perlu waktu untuk bicara mengenai kegiatannya hari itu, pria dapat menanggapinya hanya dengan mendengarkan sambil mangut-mangut ataupun menanyakan sesekali “Lalu, bagaimana?” atau “Lucu sekali” bila istrinya menceritakan suatu lelucon.
Suami tidak perlu memberikan komentar ataupun memberikan nasihat bila tidak diminta. Dengan didengarkan istri merasa mendapatkan perhatian dan cinta dari suaminya dan ia dapat memberi lebih banyak lagi pada suaminya. Suami yang melihat istrinya gembira akan gembira pula karena ia merasa dapat membahagiakan istrinya.
 Kadang-kadang bila istri sedih, suami menganggap istri memerlukan waktu sendiri seperti halnya dirinya. Suami mulai menanyakan “Ada apa, Ma, mengapa Mama bersedih ? Biasanya jawaban istri “Nggak ada apa-apa, Pa” padahal dibalik kata-kata tersebut dia ingin suaminya mengajukan lebih banyak pertanyaan dan menariknya keluar. Perkataan istri “Nggak ada apa-apa” biasanya menandakan ada sesuatu yang tidak beres dan dia perlu seorang pendengar yang menaruh minat dan peduli padanya. Dia ingin ditanyai dan pertanyaan-pertanyaan itu akhirnya akan membantunya membuka diri.
Pemahaman yang baik akan kebutuhan emosionil pria dan wanita akan membawa pada kebahagiaan rumah tangga.

Rabu, 03 Februari 2010

Mempersiapkan si Sulung Sambut Adik Baru

Bulan Januari kemarin tepatnya tanggal 30 Januari 2010 putri sulungku genap berusia 3 tahun. dan hadiah yang akan Najmi terima dariku adalah seorang adik baru...
Ya..aku sedang hamil sembilan bulan dan InsyaAllah akan melahirkan dalam waktu dekat, so kami sedang dalam masa penantian sekarang ini ^_^
Sebisa mungkin sejak dini kami memperkenalkan Najmi pada calon adik barunya. dan sejauh ini Najmi terlihat cukup bersemangat menyambut adik barunya, bahkan Najmi yang paling rajin mengajak adiknya "berkomunikasi".
Semua memang perlu dipersiapkan terutama tentu saja menyiapkan mental si sulung dalam menyambut adik barunya, bagaimana membuat si sulung tidak merasa tersingkirkan, terabaikan, merasa tidak dicintai sehinga menimbulkan kecemburuan terhadap adiknya. Tentu akan lebih sulit pada waktunya, jika adiknya telah lahir karena seorang bayi yang baru lahir bagaimanapun akan selalu membutuhkan perhatian yang lebih ekstra.
Setidaknya kami berusaha untuk sebisa mungkin mempersiapkan putri sulung kami menyambut adik barunya, sehinga kehadiran calon anggota baru dalam keluarga kecil kami ini dapat membawa kebahagiaan untuk semua termasuk untuk Najmi...
Persiapkan si Sulung Sambut Adik Baru
Penulis : Yulia Permata Sari

KEHADIRAN anggota baru di dalam keluarga bisa membawa banyak perubahan terhadap anggota keluarga lainnya. Orang tua mau tidak mau mencurahkan lebih banyak energi untuk mempersiapkan segala sesuatu guna menyambut kehadiran sang buah hati. Lantas ketika sang bayi lahir, perhatian keluarga pun lebih banyak tercurah untuk memenuhi kebutuhan makhluk mungil tersebut.

Berbagai perubahan tersebut tentu tidak mudah untuk dihadapi, terutama bagi si sulung yang selama ini terbiasa menjadi pusat perhatian keluarga. Kehadiran adik baru bisa membuatnya merasa iri dan tersingkirkan, sehingga ia kemudian mulai berulah demi menarik perhatian semua orang yang tiba-tiba teralih darinya.

Akan tetapi, semua itu dapat diatasi apabila orang tua sudah mempersiapkan si sulung terlebih dahulu untuk menyambut adik barunya. Simak sejumlah kiat yang diberikan Jennifer Shroff Pendley, PhD seperti dikutip situs kidshealth.org berikut ini:

Selama kehamilan
Tidak ada cara atau waktu yang benar-benar tepat untuk memberitahu si sulung mengenai rencana kehadiran adik barunya. Ketika berdiskusi tentang kehamilan, pastikan Anda berbicara dengan si sulung dalam konteks yang mudah dipahami sesuai tingkat kedewasaannya. Biarkan anak melontarkan pertanyaan sebagai panduan mengenai apa saja yang perlu ia ketahui, dan jawablah pertanyaan-pertanyaannya secara bijaksana.

Misalnya, ketika anak yang masih balita bertanya dari mana adiknya berasal, Anda tidak perlu menjawab pertanyaan itu secara mendetail. Cukup jelaskan bahwa adik bayi berasal dari perut ibu, dan ia ada karena ayah dan ibu saling mencintai. Apabila si sulung memperlihatkan ketertarikan yang lebih terhadap sang bayi, Anda bisa mengajaknya melakukan sejumlah aktivitas seperti melihat-lihat foto USG calon adik bayi, mengunjungi kerabat yang memiliki bayi, mengunjungi dokter kandungan, serta memikirkan sejumlah nama untuk calon adik bayinya.

Menjelang persalinan
Saat jadwal persalinan semakin mendekat, bicarakan hal tersebut dengan si sulung untuk membuat rencana kunjungannya ke rumah sakit demi menjenguk Anda dan adik barunya. Dengan demikian, anak tidak akan terkejut dan bisa lebih mempersiapkan diri ketika tiba saatnya nanti. Coba menjaga rutinitas agar tetap berjalan sebagaimana biasa beberapa minggu menjelang proses persalinan.

Setelah persalinan
Ketika tiba waktunya pulang dari rumah sakit dan membawa adik bayi ke rumah, Anda dan suami bisa membantu si sulung untuk beradaptasi dengan adik barunya. Libatkan ia dalam sebanyak mungkin aktivitas keseharian yang berhubungan dengan adik bayi, misalnya saat mengganti popok, memandikan bayi, memakaikan pakaian, mendorong kereta bayi, dan lain sebagainya sesuai kemampuan dan usianya. Dengan demikian, anak tidak akan merasa tersisihkan atas kehadiran adik barunya.

Apabila si sulung tidak memperlihatkan ketertarikan terhadap adik barunya, jangan buru-buru khawatir atau memaksanya. Barangkali ia masih memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan anggota baru di dalam keluarga tersebut.

Membicarakan perasaan
Apabila si sulung masih kesulitan menyesuaikan diri dengan kehadiran adik barunya, ajak ia untuk berbicara dari hati ke hati tentang perasaannya. Jika anak menjadi sering berulah, coba selidiki apa yang menjadi pemicu sehingga ia bertingkah seperti itu. Bangkali itu merupakan pertanda bahwa si sulung membutuhkan lebih banyak waktu untuk berduaan saja dengan orang tuanya. Jelaskan kepadanya bahwa perasaannya penting bagi Anda, namun ia harus mengutarakannya dengan cara yang baik dan tidak berulah.
Powered By Blogger