Sabtu, 30 Januari 2010

Malaikat kecilku

Namanya Najmi Malahayati Indrajaya, aku selalu senang bercerita tentang putri kecilku. rasanya tak pernah bosan bercerita tentangnya. Setiap hari selalu ada polahnya yang membuatku tersenyum, tertawa, bahkan jengkel gak ketulungan.
Aku ingin sekali bisa memanjakannya, mengikuti setiap keinginannya. tapi aku sangat tak ingin putri sulungku tumbuh menjadi anak yang manja dan tak mandiri. karena kelak dia akan menhadapi kehidupan ini seorang diri tak bisa selalu bergantung pada kami sebagai orang tuanya, Najmi harus bisa Survive, dan itu bisa terlahir dari Kemandirian...
Setiap hari aku selalu mengatakan pada putri kecilku bahwa aku dan abinya sangat menyayanginya, dan aku yakin dia mengerti bahwa sikap kami yang terkadang agak keras adalah wujud kasih sayang kami...
I Love You So much Najmi...
Berikut ada beberapa tips tentang bagaimana mengajarkan kemandirian sejak dini pada balita kita

EH, ANAKKU SUDAH MANDIRI!
Anak mandiri berani menghadapi tantangan sekaligus tidak mudah putus asa.
Satu tahun pertama adalah fase ketergantungan penuh seorang anak pada orangtua. Mulai usia 1 tahun, muncul keinginannya untuk mencoba-coba sesuatu atau mengerjakan suatu aktivitas dengan usaha sendiri tanpa mengandalkan
bantuan orang lain. Dengan kata lain, si kecil mulai menunjukkan kemandiriannya. Nah, sebenarnya bagaimana tahapan kemampuan kemandirian anak usia batita? Ikuti penjelasan selengkapnya.
USIA 12-18 BULAN
DI USIA 12-15 bulan, kemampuan berbahasa dan motorik anak mengalami perkembangan pesat. Ia mulai berjalan dan dapat bergerak dari satu tempat ke tempat lain. Kemampuannya berpindah inilah yang membuatnya menemukan hal-hal menarik di sekitarnya. Lantaran rasa ingin tahunya juga meningkat, anak jadi terdorong untuk memegang, mengambil, dan memandangi benda-benda di sekelilingnya dengan teliti.
Sampai usia 18 bulan, kemandirian si batita umumnya terlihat dari keinginannya untuk bereksplorasi. Ia banyak bergerak, tak bisa diam dan memegangi segala sesuatu yang ditemukannya. Terkadang rasa ingin tahunya ditunjukkan dengan perilaku memasukkan sesuatu ke mulut, menjilat, atau melemparnya untuk melihat apa yang terjadi jika itu dilakukan.
Bila orangtua kemudian melarangnya dengan alasan takut kotor atau rusak, maka bisa saja si kecil mendadak marah karena merasa kesenangannya diganggu. Juga, asal tahu saja, si kecil justru sedang mengasah kemandiriannya. Bila orangtua terlalu banyak melarang maka bukan tidak mungkin anak menjadi frustrasi sehingga tidak lagi berniat melakukan eksplorasi.
Pada fase 12-18 bulan, anak lebih banyak belajar dengan melakukan sesuatu bukan dengan berpikir. Alhasil dalam melakukan kesenangannya bereksplorasi ia lebih mengutamakan melakukan hal-hal yang dianggapnya menimbulkan kesenangan sepihak. Ia belum mampu berpikir tentang dampak perbuatannya atau membagi kesenangannya dengan orang lain.
Hal-hal umum yang sudah mulai dapat dilakukan pada fase usia ini adalah:
* Memegang botol minum bahkan sudah mulai minum dari gelas.
* Melakukan hal-hal yang berhubungan dengan rangsangan rutin yang diberikan, misalnya ketika ibu memegang piring, maka ia tahu bahwa sudah waktunya makan. Dengan arahan yang konsisten, perilaku bergerak menuju meja makan dan siap makan akan terjadi secara otomatis. Nah, orangtua dapat memperkenalkan tanda-tanda yang mengarah pada kemandirian rutinitas, misalnya ketika jam makan, perlihatkan piring pada anak; atau ketika sudah waktunya tidur, ibu membawa piyama atau baju tidur dan boneka yang biasanya dibawa tidur. Diharapkan anak mendekati ibu dan ganti baju tidur.
Pada usia 12-18 bulan ini, sering muncul konflik dan dilema yang berkenaan dengan upaya mengajarkan kemandirian, antara lain:
* Orangtua belum tega memisahkan diri dalam waktu yang lama dari anak dengan alasan takut terjadi sesuatu yang membahayakan si buah hati. Bila orangtua merasa sulit berpisah dari anak, maka si kecil jadi tidak terlatih untuk berpisah dan melakukan hal-hal yang mandiri.
* Orangtua terkadang ingin segera memberikan bantuan saat melihat si buah hati mengalami kesulitan atau kurang sempurna melakukan sesuatu. Bila pertolongan terlalu cepat datang, anak tidak terlatih mengalami kesulitan dan menyelesaikannya.
USIA 18-24 BULAN
PADA usia ini, keterampilan si batita lebih matang dibandingkan 6 bulan sebelumnya. Perilaku yang berhubungan dengan aktivitas fisik akan semakin menonjol karena pertumbuhan fisik dan perkembangan mentalnya semakin baik. Ia lebih percaya diri ketika berjalan, berlari dan melompat. Hal-hal yang paling disenangi oleh anak usia ini adalah melakukan kegiatan fisik seperti menendang bola, menekan-nekan barang yang mengeluarkan suara, memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lain, naik turun tangga dan lainnya.
Kemandirian tercapai karena latihan dan kesempatan berlatih. Oleh karenanya ketika anak menunjukkan ketertarikan melakukan sesuatu sendiri, maka hendaknya orangtua mengizinkan anak untuk mencoba dan mengulanginya sampai ia akhirnya mampu melakukannya sendiri. Bagi anak, mencoba melakukan sesuatu adalah bagian dari eksplorasi dan pemuasan rasa ingin tahunya.
Walaupun di usia ini anak tampak lebih matang, mereka ingin ditemani kala melakukan sesuatu. Itulah ciri khasnya. Bila orangtua atau pengasuh hilang dari pandangan, mereka akan merasa cemas. Biasanya orang lain dibutuhkan sebagai tempat untuk menunjukkan atau memamerkan apa yang telah dapat dilakukannya. Namun, menjelang usia 2 tahun, anak justru menunggu saat bisa sendiri dan melakukan sesuatu tanpa diketahui oleh orang lain. Jika melakukan kesalahan kecil sekalipun, ia cenderung berusaha menutupinya. Misalnya, setelah menumpahkan air di lantai dia memilih pindah ke tempat lain seolah tidak terjadi apa-apa.
Hal-hal yang umumnya sudah mampu dilakukan anak di rentang usia ini adalah:
* Mencuci muka dan tangan sendiri. Kegiatan mencuci muka dan tangan adalah kegiatan yang sangat menarik bagi anak karena berhubungan dengan air dan sabun. Ketika kegiatan ini diperkenalkan hendaknya orangtua menyiapkan sabun yang tak perih di mata serta handuk kering. Latihan ini pada awalnya bisa saja menimbulkan pengalaman traumatis terutama jika sabun yang dioleskan ke muka ternyata menimbulkan perih di mata. Latihan mencuci tangan dapat dilanjutkan ketika berada di restoran atau di tempat lain.
* Menggunakan sendok untuk makan. Jika anak belum dapat makan dengan rapi hendaknya dimaklumi karena menyuap makanan dengan sendok membutuhkan koordinasi tangan dan mata serta latihan terus-menerus.
* Mengancingkan dan membuka baju atau menutup celana beresleting.
* Memakai topi dan sandal sendiri.
* Membawa tas atau botol minum kebutuhan sendiri.
* Pada usia ini sangat penting mulai dilakukan toilet training atau mengontrol buang air kecil dan buang air besar dengan baik. Latihan menggunakan pispot atau menuju ke kamar mandi hendaknya dilakukan dengan cara menyenangkan. Begitu anak menunjukkan inisiatif untuk mau mencoba melakukan sendiri, segeralah orangtua memberikan pujian dan perhatian yang menunjukkan penghargaan.
USIA 24-36 BULAN
PADA usia ini, anak lebih matang dan lebih mampu menunjukkan serta mempertontonkan pada orang lain tentang apa yang mampu dilakukan. Misalnya ia menunjukkan gerakan-gerakan yang telah dikuasainya. Si kecil juga mau menerima tantangan, misalnya siapa yang bisa menghabiskan makanan lebih cepat atau siapa yang bisa membawa buku lebih cepat dari meja satu ke meja lain. Ia lebih punya keberanian untuk menunjukkan kreativitas.
Beberapa kemampuan menonjol yang menunjukkan kemandirian, misalnya:
* Tidak mau digandeng ketika berjalan.
* Naik sepeda sendiri. Terkadang karena masih belum mengenal bahaya maka ia cenderung tidak memikirkan akibatnya jika ngebut.
* Ada keinginan untuk diikutsertakan dalam kegiatan bersama. Misalnya ketika keluarga menyiapkan makan malam, anak ingin ikut membantu membawakan piring, mengatur kursi, dan lain-lain. Keinginan anak membantu ini hendaknya direspons positif dengan memberinya tanggung jawab yang mampu dilakukannya.
Menjelang usia 3 tahun, anak semakin sering terlibat konflik disiplin atau aturan dengan orangtua. Di satu sisi, anak berupaya untuk mengisi waktunya dengan melakukan kegiatan-kegiatan mandiri yang telah dilatihkan padanya. Namun di sisi lain perasaan ingin tahu mendorongnya melakukan eksperimen-eksperimen baru yang belum tentu diharapkan, misalnya menggambar di dinding. Memang, kemandirian seorang anak ternyata mengetes kesabaran orangtua. Ibu dan ayah tak perlu terlalu khawatir mengingat si kecil nantinya lebih dapat diarahkan, terutama di usia prasekolah atau di jenjang TK. Mereka akan bersama-sama belajar dengan teman seusianya tentang bagaimana cara mandiri secara benar dan mengikuti aturan sosial yang berlaku.
PENTINGNYA PERAN LINGKUNGAN
SIKAP kurang mandiri pada anak batita biasanya ditandai dengan ketakutan berpisah dari orangtua. Dapat juga dilihat dari kemampuan yang belum dicapainya dibandingkan dengan anak lain sebayanya. Namun, sesungguhnya pada usia batita, banyak hal yang tidak dapat dibandingkan secara langsung untuk kemudian mengategorikan seorang anak belum mandiri. Faktor yang perlu dipertimbangkan antara lain adalah stimulasi dari lingkungan. Dalam hal ini, orangtua perlu kreatif memberikan arahan dan dorongan agar anak mau mencoba melakukan sesuatu sendiri. Yang terpenting adalah kesiapan si anak dalam memulai hal baru.
Pada usia batita, sikap belum menunjukkan kemandirian takkan menimbulkan dampak yang terlalu serius. Namun orangtua biasanya akan merasa cemas dan mulai bertanya-tanya bahkan berkonsultasi pada ahli. Mungkin Anda merasa gagal. Hal ini dapat menimbulkan kekhawatiran bahwa sang buah hati takkan mampu mandiri dan akan terus bergantung pada bantuan orang lain. Ketakutan dan kecemasan ini dapat menggiring orangtua untuk bersikap keras dan memaksa, bahkan menghukum anak bila tidak mampu melakukan hal-hal yang seharusnya telah mampu dilakukan.
Hal yang paling penting dilakukan adalah membiasakan anak 'berpisah' sementara dari orangtua atau pengasuhnya. Tentu dengan cara yang menyenangkan sehingga muncul keberaniannya. Memasukkan anak ke playgrup/taman bermain adalah salah satu cara yang banyak dipilih orangtua. Umumnya kegiatan dilakukan 1 sampai 3 kali dalam seminggu.
PRINSIP MELATIH KEMANDIRIAN
Agar anak tidak terlalu bergantung pada orangtua atau pengasuhnya, terapkan beberapa prinsip berikut:
* Ciptakan lingkungan yang aman dan nyaman
Anak yang takut berpisah dari orangtua/pengasuhnya memiliki rasa tidak aman sehingga tidak mau melakukan apa pun sendirian. Agar anak merasa aman, berikan jaminan dengan berkata, "Mama ada di sini kok, adik bermain bola di sana biar Mama bisa memotret dari sini, ya." ; "Ayo ikut dengan bu guru. Bu guru punya mainan lucu, nanti kamu ceritakan pada Mama ya.kamu pasti senang di dalam ruangan bermain itu."
* Menciptakan dan membina rasa percaya diri anak
Orangtua dapat memberikan kepercayaan dan melibatkan anak untuk melakukan sesuatu asalkan tak berbahaya. Beri pujian atas kesediaannya melakukan sesuatu. Biarkan dia melakukan hal lain yang lebih besar tanggung jawabnya sebagai bentuk latihan baginya untuk terlibat dalam hal-hal yang lebih kompleks. Bila hal ini dilatihkan terus, maka akan mampu menciptakan rasa percaya diri yang kuat sebagai modal utama untuk menjadi pribadi mandiri.
* Bermain bersama teman sebaya
Anak perlu terus didorong untuk mau bermain dengan teman sebayanya. Namun di usia batita anak adalah peniru ulung sehingga sebaiknya orangtua memilihkan lingkungan bermain yang lebih mendorong tumbuh dan berkembangnya pribadi yang mandiri, tangguh, berbudi luhur dan lainnya.
* Berilah anak kesempatan memilih
Ini sebagai latihan agar anak mampu mengambil keputusan sendiri.
* Doronglah anak untuk selalu mencari alternatif cara
Contohnya, "Wah, tadi kamu minum susu pakai sedotan, ya. Tahu enggak, cara minum susu tanpa pakai sedotan dan botol susu?"
* Jangan patahkan semangatnya ketika anak belum berhasil
Lebih baik, beri contoh konkret tentang bagaimana sesuatu semestinya dilakukan.
* Beri batasan yang tepat
Jangan memaksa anak melakukan sesuatu yang belum menarik minat mereka.
CIRI-CIRI MANDIRI
Saat menunjukkan kemandiriannya, si kecil tidak mau dibantu dalam melakukan sesuatu. Anak terlihat memiliki kepribadian yang makin matang, berani menghadapi tantangan, sekaligus tidak mudah putus asa karena ia tahu bagaimana cara mencari alternatif penyelesaian masalah.
Anak yang mandiri akan lebih yakin dan berani mencoba hal-hal yang belum pernah dilakukannya. Ia juga berani bertanya secara kritis tentang hal-hal yang tidak sesuai dengan pikirannya. Anak mandiri biasanya memiliki rasa tanggung jawab dan menunjukkannya melalui pelaksanaan aktivitas harian, seperti mandi, berpakaian, makan, dan lainnya, serta mau membereskan barang-barang yang telah dipergunakan olehnya.
Melatih kemandirian hendaknya dilakukan secara simultan antara kemampuan motorik dengan kemampuan berbahasa. Jika kedua hal ini sedikit-sedikit mampu dikuasai, anak jadi berani mencoba hal lain.
Hilman Hilmansyah. Foto: Iman/NAKITA
Konsultan ahli:
Josephine M.J.Ratna, M.Psych,
psikolog Rumah Sakit Surabaya Internasional, RS Mitra Keluarga,
RS St. Vincentius a Paulo (RKZ), Surabaya

Jumat, 29 Januari 2010

Still About Najmi

Ini tulisan keduaku...masih belajar neh, jadi agak belepotan ^_^
masih tentang putri kecil kami, maklumlah anak pertama...
Aku bersyukur suamiku cukup kooperatif dan mau seiya sekata dalam hal pola asuh, kekompakan antara ayah dan ibu dalam hal pengasuhan anak tentu merupakan hal yang sangat penting. Coz kalo gak kompak malah bikin anak jadi bingung, pola asuh yg diberikan pun jadi gak konsisten and gak efektif.
Akhirnya segala aturan yg sudah ibu terapkan bisa jadi malah berantakan ato sebaliknya.
Sejak kehamilan pertamaku aku n suami emang dah sering berdiskusi tentang bagaimana cara mendidik anak yang terbaik. Untungnya kami juga mempunyai beberapa kesamaan tentang masalah menerapkan kemandirian dan life skill pada anak...
Alhamdulillah sejauh ini kami masih kompak, and kami saling mendukung. kalopun ada hal-hal yang kurang sepakat dalam tertentu yang berkenaan dengan pola asuh najmi kami bicarakan di belakang layar.
Berikut ini adalah hal yang mendasari kami dalam hal menjaga kekompakan dan kerjasama yang baik sebagai orangtua

Porsi Ayah dan Ibu dalam Membentuk Generasi yang Shaleh

Oleh : Dra. Djauharah Bawazir

PORSI AYAH

Dalam Al Qur’an Allah berfirman yang artinya “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka”. Menurut penafsirannya, ayat ini ditujukan kepada para penanggung jawab keluarga yang secara umum adalah ayah. Ayah yang wajib menjaga termasuk memperhatikan dan mendidik istri dan anak-anaknya dari jilatan api neraka.

Sejalan dengan itu pula, kalau kita perhatikan salah satu surat Al Qur’an adalh surat Luqman diambil dari nama Luqman seorang tokoh pendidikan. Ini menunjukkan bahwa penanggung jawab pendidikan adalah seorang ayah. Inti pendidikan yang disampaikan adalah bagaimana ketaatan pada Allah, berbakti kepada orang tua dan bagaimana berpartisipasi pada masyarakat dalam mengajarkan berbuat baik dan mencegah orang berbuat mungkar.

Pada surat Ash-shaffat ayat 100 dan 101 Allah menjelaskan bahwa jadinya anka yang saleh (Ismail) adalah pengabulan dari do’a yang dilakukan oleh ayahnya. Demikian pula pada (QS. 14: 37) walaupun Nabi Ibrahim meninggalkan keluarganya, namun hati dan pikirannya tidak lepas dari mereka. Ia tetap berdo’a kepada Allah untuk keselamatan dan kesejahteraan mereka. Semua ini menunjukkan bahwa tanggung jawab tetap ada padanya sebagai seorang ayah.

PORSI IBU

Ismail ditinggalkan oleh Ibrahim sejak masih bayi merah. Ibunyalah yang berusaha mencarikan makan dan mendidiknya tanpa bantuan kebersamaan ayahnya. Ia berusaha dengan sekuat tenaga dan kesadaran hingga datang pertolongan Allah. Dengan munculnya air zam-zam, selain untuk hidup mereka berdua, terbentuklah lingkungan oleh kabilah-kabilah yang datang ke sana.

Disini jelas bahwa ibu mempunyai peranan penting dalam menentukan strategi pada proses pendidikan  anaknya yang mengatakan bahwa ibu adalah tempat belajar. Kaitan ini Nabi kita juga memberikan pengarahan dengan sabdanya; sorga dibawah telapak kaki ibu.Kalimat ini mengandung arti yag sangat dalam dan mempunyai bobot yang berat, karena dalam kalimat ini terkandung makna bahwa ibu dapat mengarahkan anak untuk menuju ke sorga. Memberi pengarahan kepada anak agar menjadi anak yang shaleh yaitu anak yang mengikuti perintah Allah dan menjauhi larangannya, seta berbakti kepada orang tuanya. Tentu saja, yang dapat memberikan pengarahan demikian adalah ibu yang mengikuti perintah Allah dan Rasulnya.

Dari apa yang telah teruraikan dapatlah ditarik kesimpulan bahwa anak adalah amanat dari Allah Swt. yang dibebankan kepada kedua orang tua untuk mendidiknya seperti tersebut dalam hadits Nabi: “Semua anak dilahirkan sesuai dengan fitrahnya”. Maka orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi atau Majusi atau Nasrani.

PORSI AYAH DAN IBU DALAM  MELAKSANAKAN PENDIDIKAN ANAK

Namun demikian, sesuai dengan tugas kehidupan yang dibebankan kepada suami dan istri dalam membina rumah tangganya, Nabi kita juga bersabda yang artinya: seorang laki-laki adalah penggembala di dalam keluarganya dan ia bertanggung jawab terhadap gembalaannya itu. Dan seorang wanita itu adalah penggembala di dalam rumah suaminya dan ia bertanggung jawab terhadap gembalaannya itu.

Dari hadits ini dapatlah dikatakan bahwa istri merupakan pengelola rumah tangga termasuk pelaksana dalam pendidikan anak. Untuk tugasnya inilah Allah telah menganugerahkan kepada perempuan perasaan yang halus, ketabahan dan pendekatan yang lebih bersifat emosionil.

Seorang ibu mempunyai perasaan yang dalam serta radar yang kuat terhadap apa yang terjadi maupun yang dilakukan oleh anaknya. Hal ini tidaklah mustahil, karena Allah Swt. telah meletakan janin di dalam rahim ibu dan darahnya mengalir bersama-sama, sampai harus diputus oleh orang lain setelah ia sanggup lahir di dunia. Selanjutnya, sejak tangisnya yang pertama seorang anak berhubungan langsung dengan ibunya, dan sejak saat itu sudah mulai terjadi proses pendidikan.

PENDAYAGUNAAN POTENSI AYAH DAN IBU

Yang menjadi permasalahan ialah, bagaimana mendayagunakan potensi itu agar dapat bermakna seperti yang termaktub dalam hadits Nabi tersebut. Beberapa acuan kiranya dapat kami kemukakan disini, sebagai rambu-rambu bagi para ibu dalam mengatur langkah:
  • Memberikan pengarahan kepada para  muslimah akan pentingnya tugas luhur yang dibebankan Allah atas diri para ibu. Untuk itu selain persiapan fisik dan mental, perlu pendalam kaidah Islam dan mengkaji isi Al Qur’an sebelum mereka melaksanakan pernikahan.
  • Mengingat bahwa tugas pendidikan itu adalah tugas bersama antara ayah dan ibu, serta kepala keluarga adalah suami, maka dalam memilih calon pasangan hidup hendaknya selain masalah-masalah yang bersifat subyektif, diutamakan memilih yang taat beragama dan mendalami ilmu agama Islam.
  • Mengelola rumah tangga sesuai dengan rumah tangga yang Islami, termasuk mengatur dekorasi, sehingga terasa adanya nafas Islam di dalam rumah tangga.
  • Mengusahakan jadwal kegiatan sehari-hari di dalam keluarga dengan jadwal yang sesuai dengan syariat Islam, mendahulukan waktu-waktu beribadah daripada kepentingan yang lain.
  • Sejak anak dilahirkan perlu dibiasakan dengan kebiasaan-kebiasaan Islami yang mengarah kepada pemilikan aqidah yang kuat.
  • Memperkenalkan kepada anak keberadaan Allah Swt. dan kebesaranNya sejak saat pertama anak dapat berkomunikasi. Cara penyampaian antara lain dengan bercerita, menjawab pertanyaaan-pertanyaan anak dan merangsang imajinasinya.
  • Mengajarkan kepada anak bacaan Al Qur’an sedini mungkin, yaitu sejak anak dapat menirukan ucapan-ucapan orang lain. Melatih untuk menghafalkannya, sesuai dengan waktu ia mulai dapat menghafalkan nyanyian atau lagu.
  • Jangan menyerahkan anak sepenuhnya kepada pembantu, terutama bila ia tidak menjalankan syari’at Islam. Pembantu hanya membantu melaksanakan apa yang telah diatur oleh ibu, pada saat ibu sedang dalam kesibukan.
  • Apabila ibu akan menuntut ilmu atau mengembangkan kariernya di luar rumah, maka tugas utama dalam ruamh tangganya harus diatur sedemkian rupa sehingga tidak terlantar.
  • Memberikan contoh-contoh perbuatan muamalah kepada anak sehingga pada dirinya tertanam hablumminannas selain hablumminAllah.
  • Penting sekali adanya kerja sama dan kesepakatan antara ibu dan ayah dalam pelaksanaan pendidikan anak, agar anak tidak menjadi bingung atau menggunakan kesempatan yang terluang dari perbedaan pengarahan antara ayah dan ibu.
Powered By Blogger